Dikirim oleh Siti Fatimah Ayuningdyah

“Waktu jaman Ayah kuliah dulu..”

Begitulah cara Ayah saya memulai ceritanya tentang masa kuliah beliau pada tahun 1970-an. Semenjak kecil, cerita apapun yang mengalir menyusul  penggalan kalimat tersebut selalu saya nanti-nantikan.

Suatu waktu beliau bercerita tentang pengalamannya mengunjungi sebuah gay bar di Philadelphia, AS, sambil ditemani temannya yang merupakan pelanggan setia klab itu. Kala lain, beliau bercerita tentang tanaman ubi menjalar yang tumbuh di lemarinya akibat beliau lupa pernah menyimpan kentang di sana setahun sebelumnya. Salah satu favorit saya adalah cerita tentang teman ayah saya sesama mahasiswa internasional yang tertangkap basah menggunakan mesin fotokopi untuk mencetak gambar bokongnya dengan duduk tanpa celana di atas mesin fotokopi.

Tentunya cerita beliau tidak selalu menceritakan kebadungan dan keceriaan anak muda. Terkadang alur ceritanya lebih serius, contohnya ketika beliau terjatuh sakit ketika baru menapakkan kaki di Amerika Serikat pada usia 15 tahun, dan karena kemampuan Bahasa Inggrisnya yang pada saat itu amat terbatas, beliau bahkan tidak bisa mengkomunikasikan sakit yang beliau rasakan pada dokter.

Kini, semenjak karir saya sebagai mahasiswi S1 pun berakhir dua tahun yang lalu, kalimat khas Ayah mulai sering saya pakai.

“Waktu gue kuliah dulu..”

Kalimat tersebut paling sering ditujukan pada wajah-wajah yang baru memasuki hidup saya dalam dua tahun belakangan. Pernah kalimat itu saya lanjutkan dengan cerita saya bepergian ke Thailand bersama teman-teman dan terpukau akan kecantikan para waria di sana, pernah juga dilanjutkan dengan cerita saya berbondong-bondong bersepeda malam mengitari Singapura pada akhir pekan.

Yang lucu, cerita Ayah dan cerita saya, walaupun terpaut 30 tahun, memiliki satu persamaan; sangat jarang cerita kami menyentuh IP atau nilai. Mungkin karena sudah muak, usai kuliah saya memutuskan untuk tidak mencantumkan IP  di CV yang saya layangkan. Apakah tawaran pekerjaan tetap datang? Tentu saja!

Suatu hari, saya mendapat panggilan interview untuk sebuah perusahaan desain. Setelah interview yang saya rasa berjalan cukup baik, mereka meminta sebuah contoh tulisan, karena posisi tersebut merupakan posisi riset dan dibutuhkan contoh konkrit cara pikir kritis saya yang tertuang dalam tulisan. Saya pun mengirimkan artikel yang saya buat untuk sebuah majalah online bagi Pelajar Indonesia di Singapura tentang kondisi dunia perfilman Indonesia saat itu (2011).

Tidak selang sehari kemudian, datanglah telepon menanyakan kesediaan saya mengambil posisi tersebut.

Dua tahun berselang, tepat di hari ulang tahun saya, saya kembali mendapat panggilan interview, kali ini untuk sebuah LSM Internasional  di bidang konservasi. Saat interview mendekati akhir, tiba-tiba datang pertanyaan tak terduga, “Apakah kamu suka dan pernah jalan-jalan ke pelosok dan tempat yang terbilang asing? Dan misalnya harus tinggal di akomodasi yang ‘tidak biasa’, seperti rumah penduduk, apakah bersedia?” Saya yang sangat antusias langsung menjawab bahwa saya suka jalan-jalan dan bersedia tinggal di tempat yang ‘tidak biasa’. Lalu, untuk meyakinkan mereka, saya pun bercerita tentang pengalaman saya bepergian backpacking ke Kamboja empat tahun sebelumnya. Di mana saya dan teman-teman hanya tinggal di losmen seadanya yang bahkan menggunakan satu tempat tidur untuk lima orang.

Saya mendapatkan tawaran pekerjaan di LSM tersebut sebelum saya beranjak dari kursi dan meninggalkan ruangan.

Sebagai insan muda yang baru lulus kuliah dua tahun, pengalaman saya di dunia kerja pastinya belum seberapa. Namun, tidak pernah sekali pun dalam proses interview saya ditanya mengenai IP.

Bukan maksud saya mengatakan mereka yang dahulu giat belajar dan berhasil meraih IP tinggi tidak akan sukses, melainkan bahwa sebagaimana halnya banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan menuju cita-cita.

Saya tidak tahu pasti apa saja jalan menuju cita-cita, tapi yang saya tahu pasti, pilihan yang kita buat semasa kuliah bisa menentukan masa depan kita dengan cara yang tak terduga. Contohnya, perjalanan ke Kamboja yang saya singgung sebelumnya saya lakukan ketika banyak teman-teman saya justru menggunakan waktu mereka untuk belajar. Partisipasi saya dalam majalah online pun sesuatu yang saya pilih untuk mengisi waktu di saat beberapa teman saya memilih untuk ‘berkemah’ dan belajar di perpustakaan. Hingga kini, saya sama sekali tidak menyesali pilihan saya.

Yang saya juga tahu pasti, 10 tahun dari detik ini, ketika saya menuturkan, “Waktu Mama kuliah dulu..” pada anak-anak saya, saya tidak ingin kalimat tersebut dilanjutkan dengan cerita mengenai masa muda yang terbuang, tanpa sempat dinikmati.

Siti Fatimah Ayuningdyah is a petite ball of fantabulousness who was born in Germany, brought up in Indonesia, and educated in Singapore. An aspiring Beatlemaniac, Ayu became an accidental conservation activist with WWF Indonesia after graduating from Singapore Management University with a degree in Psychology. She is currently pursuing a master’s degree in Management Marketing at the University of Kent, UK. Follow her on Twitter at @mbakajoe.