Setelah lulus dari program Bachelor of Fine Arts di LASALLE College of the Arts, Naufal Abshar (lahir 1993) mulai merintis kariernya sebagai pelukis muda Indonesia. Sejak itu, lukisan Naufal telah dipamerkan di Indonesia, Singapura, Venesia, hingga Lithuania. Pada tahun 2013, Naufal memenangkan peringkat satu di kompetisi live painting Indonesia Arts Festival. Saat ini, karya Naufal sedang dipamerkan dalam solo exhibition yang berjudul “Is This Fate?” di galeri Art Porters, Singapura.

SekolahSG berkunjung ke studionya di Depok, untuk mengenal lebih jauh sepak terjang Naufal, inspirasinya, dan rencana ke depannya untuk dunia seni murni di Indonesia.

Bagaimana sih kamu bisa tertarik dengan dunia seni?

sekolahsg-profile-naufal-abshar-tools1

Gue dulu sekolahnya di sekolah Islam biasa. Tapi sejak kecil, gue sudah suka menggambar. Buat orangtua gue, seperti orangtua Indonesia lainnya,  menggambar itu cuma sekedar hobi  saja.

Saat SMA, gue akhirnya bilang ke orangtua gue kalau passion gue itu ya menggambar. Orangtua gue kaget awalnya, tapi masih oke kalau gue masuk ke desain grafis . Tapi gue nggak suka dengan desain grafis, karena banyak aturannya, sementara gue nggak suka mengikuti aturan.

Orangtua gue tanya, “Beneran mau masuk seni murni? Bukan cuma ikut tren kan?” Akhirnya gue berhasil meyakinkan mereka kalau gue memang mau jurusan  seni murni. Dan mereka bilang, “Oke, kalau memang mau, harus serius, karena pilih jurusan ini gamble.”. Saat itu gue mempertimbangkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) atau di Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta. Gue juga sempat kepikir untuk pergi ke London, tapi terlalu jauh; belum lagi ini pertama kalinya gue belajar di luar negeri. Jadi untuk luar negeri, gue mempertimbangkan antara Australia dan Singapura.

Akhirnya gue memutuskan untuk pergi ke Singapura, karena lokasinya cukup dekat dan budayanya tidak terlalu beda jauh dari Indonesia. Selain itu, Singapura juga adalah pusat bisnis. Jadi gue bisa belajar jadi entrepreneur, bukan hanya seniman biasa.

Kenapa memilih LASALLE?

Yang bagus dari LASALLE, mereka membuat pelajarnya sadar bahwa untuk jadi seniman sukses, keahlian membuat karya itu tidak cukup. Gue bukanlah satu-satunya seniman di dunia ini. You have to put yourself out there, talk to people. Harus bisa independen dan berani untuk promosi karya kita. Jadi mereka mengajarkan professional skills, seperti caranya presentasi dan caranya berurusan dengan galeri. Mereka mengajarkan kami cara menjadi entrepreneur.

Menurut gue, itulah yang kurang dari universitas seni di Indonesia. Tentunya, kalau kita bicara soal keahlian dalam membuat karya seni, universitas di Indonesia lebih bagus. Tapi kalau lo ingin menjadi art entrepreneur, pergilah ke LASALLE.

Selain itu, LASALLE itu bukan sekedar tempat belajar seni lukis. Tapi juga ada jurusan film, fashion, desain interior, dan lain-lain.

 

“Yang bagus dari LASALLE, mereka membuat pelajarnya sadar bahwa untuk jadi seniman sukses, keahlian membuat karya itu tidak cukup.”

 

Apakah kamu pernah berkolaborasi dengan pelajar di jurusan lain?

Iya. Gue banyak berkolaborasi dengan anak jurusan film, membuat film zombie. Gue juga pernah berkolaborasi dengan teman gue yang di jurusan fashion dan desain interior. Sampai sekarang juga gue masih berkolaborasi dengan mereka, atau kadang sekedar bertukar ide saja.

Koneksi di LASALLE itu bagus! Selain menyediakan fasilitas yang memadai, LASALLE juga membantu gue untuk membangun network gue, dan itu penting. Meskipun kita punya ide atau karya yang brilian, tapi nggak bisa presentasi, komunikasi atau negosiasi, kita akhirnya nggak bisa sukses.

Bagaimana sih cara Naufal membangun network?

sekolahsg-profile-naufal-abshar-candidSelama kuliah, gue kerja di beberapa galeri di Singapura sebagai asisten: masukin data, touch-up lukisan, kadang bertemu klien. Gue juga pernah kerja di perusahaan logistik untuk karya seni. Gue lumayan kerja kasar di sana: ngangkat-ngangkat lukisan, beres-beres, packing. Tapi gue tetap lakuin karena gue nggak ingin kerja sekedar untuk dapat uang. Gue juga ingin dapat pengalaman dan koneksi. Dari pekerjaan itu gue dapat berkenalan dengan banyak kolektor dan pemilik galeri.

 

“Meskipun kita punya ide atau karya yang brilian, tapi nggak bisa presentasi, komunikasi atau negosiasi, kita akhirnya nggak bisa sukses.”

 

Saat gue bekerja di perusahaan logistik itulah gue bertemu dengan pemilik galeri Art Porters, tempat solo exhibition gue sekarang. Dia ke studio gue, ngelihat karya gue, dan suka dengan karya gue. Kemudian gue diundang untuk ikutan pameran di Singapore Art Fair. Karena it went well, gue dapat hak untuk menjadi seniman eksklusif untuk Art Porters, dan gue bisa ikut Art Stage Singapore dan juga Art Stage Jakarta.

Menurut gue itu merupakan sebuah kesempatan menarik.

Orang awam biasanya mikir kalau dunia seni itu kelam. Padahal kalau kita gali lebih dalam, industri seni itu lumayan bagus dan menjanjikan.

Apakah kamu pernah mengalami kesulitan saat mendaftar ke LASALLE?

Gue lulus kuliah dari LASALLE dalam waktu 4 tahun, padahal normalnya untuk program gue hanya 3 tahun. Soalnya gue ada masalah dengan skor IELTS gue. Yah, gue kan dulu sekolahnya di sekolah biasa. Dan di Indonesia, pelajaran bahasa Inggrisnya kan tidak begitu bagus. Gue ingat gue dulu harus memiliki skor minimal 6.5 di IELTS, tapi itu tuh bagi gue sangat sulit. Jadi gue harus mengambil ulang tes IELTS itu, dan baru akhirnya gue bisa masuk kelas foundation di LASALLE.

Pernah kepikir nggak, bagaimana kalau akhirnya gagal jadi seniman?

Pernah banget! Apalagi menjelang lulus kuliah.

Teman gue lulusan desain interior, dan dia sangat pintar, tapi dia nggak dapet kerja, akhirnya menganggur selama satu tahun. Jadi gue kepikiran, “Wah gila, orang desain interior yang lapangan kerjanya lebih besar aja susah banget dapet kerja, gimana gue?”

Tapi gue nggak pernah kepikiran untuk lintas jurusan. Karena buat apa gue capek-capek kuliah seni murni kalau gue jadinya kerja di perusahaan? Jadi pilihan gue selalu galeri atau museum.

Untungnya sih gue akhirnya bisa jadi seniman full-time.

Apa yang kamu lakukan setelah lulus kuliah?

Gue sempat mencoba tinggal di Singapura selama kurang lebih satu tahun sebagai seniman. Di saat itu juga gue sambil bekerja di galeri. Tapi biaya hidup di Singapura itu tinggi. Selain itu, karena Singapura itu sangat sistematis, jadinya gue susah untuk membuat hasil karya yang gila banget. Sementara di Indonesia, gue punya lebih banyak kebebasan, dan biaya hidup lebih rendah.

Jadi gue memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Tapi di sini, lagi-lagi gue mendapatkan tantangan dari lingkungan gue. Semua orang–mulai dari satpam, tetangga, kerabat keluarga, hingga orang bank–selalu nanyain kerjaan gue. Mereka nanya, “Ngapain aja sih? Kok di rumah aja?” Mereka nggak ngerti. Dan pertanyaan itu lumayan jadi beban mental juga. Padahal gue kerjaan gue memang ngelukis. Saat itu lagi banyak pameran, jadi ngejar deadline.

sekolahsg-profile-naufal-abshar-work

Hasil karya Naufal itu berputar dalam tema “tawa” dan humor. Kenapa sih kamu tertarik untuk membuat karya seputar tema itu?

Gue terinspirasi dari aktivitas sehari-hari, terutama di Jakarta. Karena hidup kita itu banyak tantangan: kemacetan, isu sosial, masalah politik, atau apalah. Jadi bagi gue, seni itu harusnya dapat menghibur. Karena elo sudah stres! Jadi kalau lo melihat karya seni yang penuh warna, itu harusnya dapat mengurangi kekesalan lo. Gue ingin membuat orang lain senang.

Tapi di saat yang sama, kalau lo pikirin, apa sih “tawa” itu? Kita tidak selalu tertawa karena ada yang melawak. Kadang kita tertawa karena situasi di sekitar kita, atau kadang kita menertawakan diri sendiri, atau bahkan menertawakan orang lain. Ada banyak aspek dari tawa. Jadi “tawa” adalah sebuah cara menarik untuk membahas isu politik dan sosial.

Jadi gue ingin orang terhibur dengan melihat hasil karya gue, tapi saat mereka memperhatikan detilnya, mereka sadar bahwa karya gue adalah komentar mengenai isu politik dan sosial.

Menurut gue, ada dua jenis seniman: mereka yang mengedepankan sisi estetika seni, dan mereka yang mengedepankan konsepnya. Gue ingin menjadi orang yang di tengah-tengah, dan gue ingin orang bisa melihat sisi estetika dan konsep karya gue.

Kalau konsepnya terlalu dalam, tidak akan sampai ke penikmat seni ya?

Iya! Untuk karya seni yang terlalu mengedepankan konsep, tidak semua orang bisa paham. Coba lo pikirin deh, hidup orang itu sudah cukup stres. Terus mereka harus melihat karya yang membuat mereka mikir berat lagi. Botak lama-lama! Makanya gue berusaha membuat karya gue seimbang. Soalnya sekali lagi, kalau hanya mengedepankan estetika, jadinya hanya pajangan. Ya kan?

Apa proyek Naufal yang selanjutnya?

sekolahsg-profile-naufal-abshar-wip1Yang ini baru ide saja sih, tapi konsepnya tuh sculpture painting. Lukisan kan biasanya cuma ada di dinding, tapi dengan konsep ini, lukisannya bisa berdiri. Objeknya pun gue gambar bagian depan dan belakang, jadi orang bisa melihat 360 derajat. Tapi lukisan ini juga bisa ditempel ke dinding seperti lukisan biasa.

Untuk pameran tunggal gue di galeri Art Porters yang sedang berlangsung sekarang, gue menggunakan konsep “puzzle painting”. Setiap lukisan itu terdiri dari beberapa kanvas. Nanti bisa digonta-ganti. Jadi misalnya, kepala astronot ini bisa diganti jadi kepala robot, atau kepala keledai. Jadinya lucu banget kan? Bisa play around dan nggak ngebosenin!

Dengan konsep ini, audience gue bisa curate dan create seni mereka sendiri. Gue ingin melibatkan mereka.

 

Jadi nanti orang-orang bisa berinteraksi dengan karyamu ini?

Iya, semacam begitu. Dan nantinya saat mereka ingin membeli karya gue, mereka tidak harus membeli satu set. Mereka bisa membeli kepalanya saja, atau lengannya saja. Saat ini, kebanyakan penikmat seni itu hanya kaum elit saja. Gue ingin seni itu lebih mudah diakses oleh orang awam. Nggak usah punya rumah besar untuk punya karya seni.

Menjadi seniman itu sebenarnya keputusan yang sangat berani ya?

Iya, sangat beresiko. Makanya gue membuat semacam residency di studio gue ini.

Saat Art Stage Jakarta kemarin, gue mengundang seniman Jepang dan seniman Yogya dari ISI. Mereka membuat karya di sini, kemudian gue kenalin ke kolektor. Karena mereka itu punya karya bagus, tapi tidak tahu cara menjual karya mereka.

Bagaimana cara kamu memilih seniman yang masuk ke dalam programmu?

Awalnya sih itu teman-teman gue juga. Tapi ke depannya, gue ingin menerima proposal. Ada aspek kuratorialnya juga, jadi siapapun bisa mengirimkan portfolio mereka dan kita pilih sesuai tema. Minimal 2 seniman dalam satu sesi.

Kita akan terima proposal mulai Agustus. Gue selalu mengadakan program residency gue bertepatan dengan acara seperti Art Stage Jakarta dan Art Week.

Naufal ada saran tidak untuk anak SMA yang ingin kuliah seni murni, tapi kesulitan dalam mendapatkan restu dari orangtuanya?

Kalau kata gue sih, believe in yourself. Pertama, beneran suka apa nggak. Kalau dari awal udah suka, walaupun lo susah, lo bakal jalanin. Tapi kalau nggak suka, meskipun gampang juga rasanya susah. Buktikan ke orangtua lo kalau lo serius dan passionate. Dan kalau orangtua lo ngasih izin, baguslah, lo lucky. Dan gunakan kesempatan itu.

Tetapi kalaupun orangtuamu masih tidak merestui, it’s OK. Karena begini, suka seni itu nggak berarti harus jadi seniman. Kalau semua jadi seniman, siapa yang beli? Siapa yang menghargai seni? Siapa yang meliput dunia seni? Lo masih bisa menjadi kolektor, pemilik galeri, atau kurator. Gue telah bertemu dengan banyak orang yang latar belakangnya bukan seni–dokter atau arsitek, misalnya–tapi mereka tetap jadi pecinta seni juga.

Jadi ya, just believe in yourself and work hard. Itu yang paling penting.

sekolahsg-profile-naufal-abshar-wip2