Tanpa terasa, ‘Nilam a Musical’ tinggal dalam hitungan hari. ‘Nilam’ adalah sebuah musikal oleh PINTU (Pelajar Indonesia NTU) yang mengangkat kisah Malin Kundang. Kisah ini memang sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia. Tetapi selama ini, cerita yang kita dengar hanyalah si Malin yang merantau, kembali sebagai orang yang berhasil, namun ia durhaka dan dikutuk ibunya menjadi batu. ‘Nilam a Musical’ akan menceritakan kisah Malin selama perjalanannya yang mungkin tidak diketahui banyak orang.

Inspirasi items yang akan ditampilkan dalam ‘Nilam a Musical’ berasal dari keunikan budaya Minangkabau, yang dibumbui dengan budaya beberapa suku lain di Indonesia, seperti Jawa, Betawi, dan Dayak. Risetnya pun dilakukan bukan hanya dengan bantuan teman-teman yang asli Padang, namun juga dengan Rumah Budaya Indonesia!

Yuk, kita dengar apa kata penulis cerita, koreografer, penulis lagu, penata busana dan rias, serta penata panggung dalam musikal ini!


Matthew Zakharia
Penulis Naskah; Mathematical Science ’17

“Kalau ada yang belum sadar, sebenarnya Nilam itu merupakan nama Malin yang disusun terbalik. Karakter dan jabatan Malin berbalik 180 derajat setelah kembali dari rantauan; dari sebutir pasir pantai menjadi batu safir yang berkilau. Kata nilam sendiri berasal dari kata neelam yang berarti batu safir. Lalu, batu safir itu berwarna biru, melambangkan lautan yang dilalui Malin.”


Adrian Arman
Koreografer; Art, Design & Media ’18

“Untuk salah satu adegan berkelahi, saya sempat menonton tutorial-tutorial silat, krav maga, kompetisi silat, dan film “Merantau” yang dibintangi oleh Iko Uwais. Awalnya susah banget, tapi menurut saya karakteristik gerakannya mirip dengan aliran saya, hip hop. Body awareness, cara eksekusi gerakan, isolation, aksen yang tajam dan kontras, serta interpretasi lagunya sangat mengarah ke hip hop!”


Dyah Adila Siregar
Koreografer; Electrical and Electronic Engineering ’17

Dance performance biasa tidak serumit tarian di musikal, terutama karena kita tidak perlu menyesuaikan gerakannya dengan kostum. Lagunya pun bisa kita pilih sendiri; kita bisa memakai lagu yang sudah biasa kita pakai. Tapi untuk musikal, lagu-lagunya benar-benar baru; bahkan di ‘Nilam A Musical’, semua lagunya merupakan karya asli. Tidak hanya itu, kita juga harus mengkoordinasi dengan hal-hal seperti aktor/aktris, kostum, dan setting panggung.”


Ezra Karunia Murijanto
Koreografer; Business ’16

“Kami akan menghadirkan Padang melalui tarian Piring yang kami pelajarin dari tarian tradisional Padang aslinya. Kami akan memakai baju kurung, yang merupakan pakaian tradisional Padang, dengan latar belakang arsitektur Padang, Rumah Gadang. Kami juga mengadaptasi tradisi bela diri suku Minangkabau, Silek (Silat) Harimau, untuk menjadi bagian dari tarian yang akan kami tampilkan di ‘Nilam a Musical.’”


Grandy Paramananda Putra
Koreografer; Biological Engineering ’14

“Membuat gerakan tarian untuk sebuah penampilan musical yang pasti lebih menantang daripada untuk penampilan tarian biasa. Kita harus lebih ekspresif saat menari dan memperhatikan unsur penyampaian cerita melalui interaksi dengan aktor/aktris, interaksi dengan setting panggung dan properti, dan juga dari gerakan tubuh dan tarian kita. Bahasa tubuh juga memainkan peranan penting dalam menyampaikan pesan ke penonton.”

Aldi Stefanus
Komposer; Chemical and Biomolecular Engineering ’14


“Saya memulai dengan mencari melodi yang bisa menyampaikan suasana, mood, dan tujuan lagu, bisa dengan menggumam ataupun dengan menggunakan piano. Melodi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah lagu dengan mencari progressionnya. Saya juga menggunakan pola musik khas Minangkabau untuk beberapa lagu dan musik dalam ‘Nilam a Musical’, untuk membawa suasana Padang yang lebih nyata.”


Claudy Andriani
Penata Rias dan Kostum; Aerospace Engineering ’18

“Untuk beberapa kostum, kami meminta bantuan penjahit. Namun, yang membuat kami bangga, kami telah mendesain, membuat, dan menjahit sendiri kain-kain polos menjadi 24 jubah yang akan dipakai dalam musikal ini! Kami juga berusaha membuat kostumnya seotentik mungkin. Tetapi kami membuat beberapa perubahan pada desain kostum untuk memfasilitasi gerakan para aktor/aktris dan penari.”


Jeremia Aditya Tedja
Penata Panggung; Chemical and Biomolecular Engineering ’17

“Membuat replika rumah Gadang (rumah tradisional Padang) itu adalah tantangan terbesar kami. Banyak detil dan komposisi warna yang harus diperhatikan, serta ukurannya yang besar. Kami pun menjadi familiar dengan bor dan gergaji. Tanpa alat tersebut, pembuatan properti dan panggung akan memakan waktu yang lama.”