Dari Singapura, ke Eropa, dan sekarang, di Indonesia.

Di usianya yang baru 29 tahun, Leslie Lim telah mencicipi berbagai macam pengalaman kerja dan hidup sebelum memulai startup fintechnya di Indonesia, Cicil.

Lahir dan besar di Singapura, Leslie segera berangkat pergi ke Inggris setelah menyelesaikan wajib militernya. Di sana, Leslie mengambil jurusan teknik mesin di University College London (UCL). Lucunya, Leslie tidak pernah bekerja di bidang teknik mesin.

“Selama liburan musim panas kuliah, saya mengambil internship di bidang finansial,” tutur Leslie. “Dari situ saya jadi tahu bahwa sebenarnya saya lumayan suka dengan industri tersebut. Setelah melakukan dua kali internship di bidang finansial, saya memutuskan untuk terjun ke dunia itu sebagai karyawan tetap.”

Begitu lulus kuliah, ia langsung pindah ke Hong Kong untuk bekerja di HSBC selama satu setengah tahun. Kemudian, setelah sekian lama hidup jauh dari kampung halamannya, Leslie memutuskan untuk kembali ke Singapura untuk bekerja di Barclays. Di kedua bank tersebut, ia memegang posisi sebagai foreign exchange derivative trader.

“Ada banyak yang dapat kamu pelajari dari kuliah di luar negeri,” jelas Leslie. “Saat kamu tinggal di luar negeri, kamu jadi harus bergantung pada diri sendiri. Itu adalah pelajaran yang bagus. Selain itu, saat kamu tinggal di negeri yang berbeda–atau bekerja di perusahaan yang berbeda–kamu jadi belajar pola pikir yang baru.”

Pengalaman yang beragam ini membantu Leslie dalam membandingkan rasanya tinggal dan belajar di negara berbeda, dan juga menambah wawasannya. Menurutnya, ini adalah sebuah pelajaran penting.

Tetapi sebagai seorang lulusan jurusan teknik mesin, Leslie merasa bahwa pengetahuannya di bidang finansial masih kurang. Karena itu, ia memutuskan untuk mengambil program Master of Business Administration di INSEAD Perancis dan Singapura.

“Tadinya, saya berniat untuk kembali ke industri finansial setelah lulus,” aku Leslie. “Tapi di INSEAD, saya justru jadi terinspirasi untuk membuat usaha sendiri.”

INSEAD memiliki banyak penekanan di dunia kewirausahaan atau entrepreneurship. Sebagai pelajar di INSEAD, Leslie sempat melakukan karyawisata ke Amerika Serikat dan mengunjungi kantor pusat perusahaan teknologi seperti Google, Airbnb, dan Uber. Di INSEAD itu jugalah Leslie bertemu dengan Edward Widjonarko, co-founder Cicil.

“Edward juga belum pernah membuat usaha sendiri, tapi dia pernah bekerja di startup Indonesia selama satu tahun, namanya Bilna. Jadi dia sudah punya pengalaman di dunia kewirausahaan,” jelas Leslie. “Tapi dia juga ingin membuat usahanya sendiri. Dari situlah kami memutuskan untuk bekerja sama.”

Kesempatan magang untuk Student Ambassador

Meski tidak dapat berbahasa Indonesia sedikitpun, Leslie memutuskan untuk membangun startup di Indonesia. Bersama Edward, Leslie mengidentifikasi sebuah masalah di kalangan pelajar Indonesia. Menurutnya, kalangan pelajar Indonesia merupakan sebuah segmen yang kurang terlayani oleh pihak perbankan. Di Indonesia, hanya sekitar 20-25 persen warganya memiliki rekening bank. Ditambah lagi, hanya sekitar 3 persen memiliki kartu kredit.

“Jadi jika seorang pelajar ingin membeli keperluan kuliah yang mahal seperti laptop, mereka harus menabung lama terlebih dahulu,” jelas Leslie. “Di situ kami terinspirasi untuk membuat Cicil.”

Cicil merupakan penyedia layanan cicilan tanpa kartu kredit untuk pelajar Indonesia. Layanan Cicil tersedia untuk pelajar di 15 universitas di Jakarta dan Bandung, seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Trisakti dan Universitas Padjajaran.

Selain itu, Cicil memiliki lowongan kerja Student Ambassador yang memperbolehkan para mahasiswa dan mahasiswi Indonesia mendesain program kerja magang mereka sendiri.

Pada dasarnya, Student Ambassador merupakan pelajar yang telah dikontrak oleh Cicil untuk memasarkan produk Cicil ke teman-temannya di lingkungan universitas. Mereka memiliki andil besar dalam membangun reputasi Cicil di kalangan target pasar startup tersebut.

“Tapi selain itu, kami juga sangat menganjurkan Student Ambassador kami untuk lebih proaktif,” terang Leslie. “Misalnya, ada satu-dua Student Ambassador kami yang ternyata suka dengan desain, dan mereka mengajukan proposal untuk membuat poster untuk Cicil. Di situ kami dukung. Ada juga beberapa Student Ambassador yang tertarik untuk belajar bagaimana cara startup bekerja, jadi kami mengundang mereka untuk datang ke kantor pusat untuk mendapatkan pengalaman tersebut.”

Saat ini Cicil memiliki lebih dari 100 Student Ambassador. Mereka berkumpul setiap dua bulan sekali untuk mengenal satu sama lain, mendiskusikan strategi perusahaan, serta mencoba fitur-fitur baru Cicil. Selain itu, mereka juga dapat memberikan usulan mengenai produk Cicil. Para Student Ambassador ini dibimbing oleh koordinator tetap Cicil.

Tim tetap Cicil sendiri terdiri dari 14 orang yang tersebar di bagian operasional, pemasaran dan product development.. Semuanya merupakan warga negara Indonesia, kecuali Leslie.

Tetapi tentunya, budaya baru bukanlah hal yang asing lagi bagi Leslie.

Wawancara ini dilakukan dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.