Dikirim oleh Zita Setiawan

Waktu saya berumur enam tahun, saya senang apabila ada orang dewasa yang bertanya: mau jadi apa kalau sudah besar? Jawaban saya: membuka restoran saya sendiri. Kalau bisa di pinggir pantai.

Tentunya saat ini saya belum punya restoran.

Meski begitu, saya tetap mengerjakan hal lain: menjadi penjaga galeri, kasir, pelayan, pemagang (beberapa kali di perusahaan-perusahaan berbeda) sebelum akhirnya menemukan kecocokan saya di industri keuangan. Ya, saya menghabiskan cukup banyak waktu bekerja paruh waktu atau magang sebelum akhirnya mendapat pekerjaan tetap saya yang pertama. Tapi ketika saya melihat ke belakang, saya menyadari bahwa pekerjaan-pekerjaan saya yang dulu, tak peduli sekecil apapun, membantu saya bersiap untuk “dunia nyata”, yaitu hidup saya sekarang sebagai orang dewasa yang mandiri dengan pekerjaan tetap.

Inilah tiga pelajaran yang saya dapatkan dari bekerja paruh waktu dan magang:

1. Manajemen waktu itu penting.

Bekerja paruh waktu akan mengajarkan pentingnya disiplin untuk membantu manajemen waktu yang efektif. Memang kesannya tidak ada manfaat yang bisa dilihat secara nyata, tetapi menurut saya pribadi, ini adalah sebuah keterampilan yang harus kita semua kembangkan sebelum masuk ke dunia kerja.

Membiasakan diri saya disiplin cukup menyakitkan di awal, karena saya sudah sangat terbiasa dengan gaya hidup Jakarta yang santai dan bebas stres. Setelah pindah ke Negeri Singa, saya membuat jadwal kelas, kerja, dan aktivitas pribadi (cuci baju! Belanja ke supermarket! Olahraga!) yang mendetil, lengkap dengan kode warna. Karena perencanaan yang baik, saya juga bisa memasukkan waktu bersenang-senang dengan teman-teman: nonton film, pergi ke bar baru, dan juga pacaran!

Setelah masuk ke dunia kerja, kadang bersenang-senang seakan-akan tidak mungkin, seperti oasis di gurun. Tetapi memiliki hidup yang terstruktur sejak awal kariermu akan membantumu menyeimbangkan pekerjaan dan hidup. Kamu tetap waras secara mental, tetapi juga tetap maju dalam kariermu yang menarik.

2. People skills itu berguna.

Sebagai generasi internet, pasti kamu sudah membaca bahwa mempunyai emotional quotient (EQ) yang baik sama pentingnya dengan intelligence quotient (IQ) yang tinggi. Mereka saling melengkapi dan keduanya sama pentingnya untuk dimiliki.

Bekerja paruh waktu akan membantumu mengerti mengapa interpersonal skills itu berguna, dan juga cara-cara mengasahnya. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu pelajari di sekolah. Sebagai kasir, saya belajar cara mengurus pelanggan dengan kepala dingin, terutama mereka yang lumayan sulit dihadapi. Sebagai pelayan, saya belajar pentingnya menjadi sopan dan ramah ke semua orang tanpa pandang bulu. Sebagai penjaga galeri, saya belajar cara berkomunikasi dengan jelas dan efektif.

Masih ada lagi. Saya juga belajar arti sebenarnya dari teamwork. Sebagai pemagang, saya bekerja di tim yang relatif kecil, mengurus corporate communications untuk wilayah Asia Pasifik. Pada awalnya, memang kesannya cukup sulit, tetapi mempunyai goal yang sama, semangat tim yang baik, kreativitas dalam mengatasi masalah, dan cara berpikir yang strategis membantu kami untuk maju. Mengutip Helen Keller: “Alone we can do so little; together we can do so much.

As the internet generation, by now you should’ve read somewhere having a good emotional quotient (EQ) is as important as having a high intelligence quotient (IQ). They complement each other and both are equally important to have.

3. Lakukan saja. Dan lakukan dengan baik.

Pekerjaan pertamamu mungkin bukan pekerjaan impianmu. Mungkin kamu harus melakukan tugas-tugas yang membosankan. Tapi itu bukanlah alasan untuk tidak melakukannya dengan baik. Bekerja paruh waktu akan mengajarkan dua hal: pertama, jangan cepat menyerah, karena selalu ada cahaya di ujung terowongan. Kedua, bekerja keras sangat penting apabila kamu mau sukses.

Sejujurnya, saya mau berhenti di hari pertama sebagai kasir. Pekerjaan yang tidak ada artinya, saya pikir, buang-buang waktu saja. Tetapi saya menyadari, saya akan mendapatkan apa yang saya berikan ke pekerjaannya. Kalau kamu melihat sesuatu tidak ada artinya, memang tidak ada artinya. Tapi saya berusaha sebaik mungkin, dan hasilnya pun baik. Dalam beberapa bulan, saya mendapat tanggung jawab lebih besar, termasuk melatih anak-anak baru, mengurus inventaris dan uang, serta memimpin shift.

Jadi jangan lupa, meskipun bekerja paruh waktu cuma memberikan gaji yang kecil, ada banyak sekali keterampilan yang bisa kamu dapatkan. Keterampilan ini pun akan membantumu di karier masa depanmu. “Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.” – Benjamin Franklin.

Zita Setiawan is a shutterbug who currently works in investment communications at a private bank. Originally from Jakarta, she recently graduated from Singapore Management University with a degree in finance and marketing.